LAPORAN PRAKTIKUM
MANAJEMEN KUALITAS AIR
OLEH :
NAMA : LA ODE TANDA
STAMBUK : I1A210127
KELMPOK : V
(Lima)
ASISTEN :
ASMARIANI, S.Pi
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air sebagai media tempat hidup organisme
yang dibudidayakan harus memenuhi persyaratan kuantitas (jumlah) dan kualitas
(mutu). Suplay air yang cukup belum menjamin keberhasilan panen bila
pengelolaan kualitas air selama pemeliharaan tidak memadai. Pengelolaan
kualitas air memegang peranan penting dalam keberhasilan budidaya perairan.
Sasarannya adalah terjaminnya kualitas air yang memenuhi syarat bagi kehidupan
dan pertumbuhan organisme budidaya selama periode pemeliharaan (Khordi, H dan Tancung, 2007).
Kualitas air adalah istilah yang
menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya
untuk keperluan air minum, perikanan, pengairan/irigasi, rekreasi dan
sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui cara pengelolaan/manajemen
kondisi air untuk menjamin keamanan dan kelestarian dalam penggunaanya
(Subarijanti, 2005).
Manajemen
kualitas air adalah merupakan suatu upaya memanipulasi kondisi lingkungan
sehingga berada
dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan. Di dalam usaha
perikanan, diperlukan untuk mencegah aktivitas manusia yang mempunyai pengaruh negatif terhadap kualitas air, misalnya akibat pengaruh pemberian pakan yang
berlebihan dan penerapan padat penebaran tingggi (Widjanarko,
2005).
Manajemen
kualitas air mempunyai peran yang sangat penting pada keberhasilan budidaya.
Air, sebagai media hidup ikan,
berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan pertumbuhannya. Kualitas air
menentukan keberadaan berbagai jenis organisme yang ada dalam perairan, baik terhadap kultivan yang
dibudidayakan maupun biota lainnya sebagai penyusun ekosistem budidaya tersebut. Keberhasilan
usaha budidaya ikan tidak lepas dari kondisi lingkungan perairan tempat usaha
budidaya tersebut. Baik buruknya kualitas perairan sangat berperan besar.
Kualitas air yang baik akan memacu pertumbuhan ikan dengan cepat. Begitu juga
sebaliknya, kualitas air yang buruk akan menghambat pertumbuhan ikan yang
dipelihara (Khordi, 1996).
Kualitas air
dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air yang menjadi
tempat budidaya. Pengujian yang biasa dilakukan untuk kepentingan terjaminnya
kualitas air adalah metode uji kimia, fisika dan biologi. Adapun parameter yang
menjadi uji penentuan kriteria kualitas air
agar dapat mengendalikan perubahan kualitas air adalah pengukuran suhu air, derajat keasaman (pH), kesadahan,
kandungan oksigen terlarut (DO), kekeruhan atau turbiditas serta TTS dan TDS.
B. Tujuan
dan Manfaat
Adapun tujuan dari praktikum Manajemen
Kualitas Air ini adalah sebagai berikut :
1. Mahasiswa
harus dapat mengetahui dan memahami cara pengukuran beberapa parameter kualitas
air yang mempengaruhi produksi ikan.
2. Mahasiswa
dapat mengetahui dan memahami prinsip dasar teknik pengelolaan kualitas air
media budidaya, agar dapat mendukung tingkat kelayakan usaha budidaya ikan.
Sedangkan manfaat dari praktikum Manajemen
Kualitas Air ini yaitu :
1. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa sebagai pratikan
mengenai cara penggunaan alat dan pengukuran beberapa parameter kualitas air.
3. Agar
dapat memahami prinsip dasar teknik pengelolaan kualitas air dalam media
budidaya agar dapat mendukung tingkat kelayakan usaha budidaya ikan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Suhu Air
Suhu
mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme
baik di lautan maupun di perairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan
tersebut. Suhu sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan biota air.
Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat
menekan kehidupan hewan budidaya bahkan menyebabkan kematian bila peningkatan
suhu sampai ekstrim (drastis). Kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan
budidaya di perairan tropis adalah antara 28 °C – 32 °C (Khordi, H dan Tancung, 2007).
Air mempunyai kapasitas yang besar
untuk menyimpan panas sehingga suhunya relatif konstan dibandingkan dengan suhu
udara. Perbedaan suhu air antara pagi dan siang hari hanya sekitar 2°C,
misalnya suhu pagi 28°C suhu siang 30°C. Energi cahaya matahari sebagian besar
diabsorpsi di lapisan permukaan air. Semakin ke dalam energinya semakin
berkurang. Konsentrasi bahan-bahan terlarut di dalam air akan menaikkan
penyerapan panas. Terjadinya transfer panas dari lapisan atas ke lapisan bawah
tergantung dari kekuatan pengadukan air (angin, kincir, dan sebagainya) (boyd, 1995).
B. Derajat
Keasaman (pH) Perairan
pH
didefinisikan sebagai logaritme negatif dari konsentrasi ion hidrogen [H+] yang mempunyai skala antara 0
sampai 14. pH mengindikasikan apakah air tersebut netral, basa atau asam. Air
dengan pH dibawah 7 termasuk asam dan diatas 7 termasuk basa. pH merupakan
variabel kualitas air yang dinamis dan berfluktuasi sepanjang hari. Pada
perairan umum yang tidak dipengaruhi aktivitas biologis yang tinggi, nilai pH
jarang mencapai diatas 8,5, tetapi pada tambak ikan atau udang, pH air dapat
mencapai 9 atau lebih.
Perubahan pH ini merupakan efek langsung dari fotosintesis yang menggunakan CO2 selama proses tersebut (Boyd, 2002).
pH air
mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi tingkat kehidupan
jasad renik. Ketika
fotosintesis terjadi pada siang hari, CO2 banyak terpakai dalam proses
tersebut. Turunnya konsentrasi CO2 akan menurunkan konsentrasi H+ sehingga menaikkan pH air.
Sebaliknya pada malam hari semua organisme melakukan respirasi yang
menghasilkan CO2
sehingga pH menjadi turun. Fluktuasi pH yang tinggi dapat terjadi jika densitas
plankton tinggi. Tambak/kolam
dengan total alkalinitas yang tinggi mempunyai fluktuasi pH yang lebih rendah
dibandingkan dengan tambak/kolam yang beralkalinitas rendah. Hal ini disebabkan kemampuan
total alkalinitas sebagai buffer atau penyangga. Berdasarkan
hal ini, maka usaha budidaya perairan akan berhasil baik dalam air dengan pH 6,5
– 9,0, dan kisaran optimal adalah 7,5 – 8,7 (Khordi, H dan
Tancung, 2007).
C.
Kesadahan Total
Kesadahan atau sering disebut juga kekerasan air (hardness) disebabkan oleh banyaknya
mineral dalam air yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion
maupun ikatan molekul. Elemen terbesar yang terkandung dalam air yaitu kalsium
(Ca++), magnesium (Mg++), natrium (Na+) dan
kalium (K+). Ion-ion tersebut dapat berikatan dengan CO3-,
HCO3, S04-, Cl-, NO3- dan PO4-.
Kadar mineral tersebut dalam tanah sangat bervariasi, tergantung jenis
tanahnya. Kandungan meneral inilah yang menentukan parameter keasaman dan
kekerasan air (Buckman dan Brady dalam
Khordi. H dan Tancung 2007).
Jenis hewan budidaya di dalam air membutuhkan kekerasan
tertentu. Namun, kebanyakan senang berada di air lunak. Umumnya hewan air lebih
mudah beradaptasi dari air yang sifatnya lunak (dengan kesadahan kurang 50 ppm
CaCo3 eq) ke air yang sifatnya sadah (yang berkesadahan 50 ppm)
dibanding sadah ke lunak. Secara umum pertumbuhan dan perkembangan hewan air
lebih menyukai air dengan tingkat kesadahan/kekerasan 3-10 0dH
(derajat degress Hardness) (Khordi, H dan Tancung, 2007).
D.
Oksigen
Terlarut (DO)
Oksigen terlarut
merupakan variabel kualitas air yang sangat penting dalam budidaya perikanan. Semua organisme akuatik
membutuhkan oksigen terlarut untuk metabolisme. Kelarutan oksigen dalam
air tergantung pada suhu dan salinitas. Kelaruran oksigen akan turun
jika suhu dan temperatur naik (Boyd, 1995). Hal ini perlu diperhatikan karena
dengan adanya kenaikan suhu air, hewan air akan lebih aktif sehingga
memerlukan lebih banyak oksigen.
Oksigen masuk dalam air melalui beberapa
proses. Oksigen dapat terdifusi secara langsung dari atmosfir setelah terjadi
kontak antara permukaan air dengan udara yang mengandung oksigen 21% (Boyd, 1995). Fotosintesis tumbuhan air merupakan
sumber utama oksigen terlarut dalam air. Pada saat cuaca mendung atau hujan
dapat menghambat pertumbuhan fitoplankton karena kekurangan sinar matahari
untuk proses fotosintesis. Kondisi ini akan menyebabkan penurunan kadar oksigen
terlarut karena oksigen tidak dapat diproduksi sementara organisme akuatik
tetap mengkonsumsi oksigen. Keterbatasan sinar matahari menembus badan air
dapat juga disebabkan oleh tingginya partikel yang ada dalam kolom air, baik
karena bahan organik maupun densitas plankton yang terlalu tinggi. Hal ini
dapat menyebabkan terganggunya fotosintesis algae yang ada di dasar tambak (Hargreaves,
1999).
E.
Kekeruhan
(Turbiditas)
Kekeruhan
disebabkan oleh partikel-partikel tanah. Partikel-partikel tanah mampu mengikat
beberapa mineral, plankton maupun bahan organik kolam maupun tambak. Apabila
jumlahnya terlalu banyak bisa mengganggu penglihatan organisme budidaya
sehingga kesulitan dalam mencari makan (Khordi, H dan Tancung, 2007).
Kekeruhan air dapat dianggap sebagai indikator kemampuan
air dalam meloloskan cahaya yang jatuh kebadan air, apakah cahaya tersebut
kemudian disebarkan atau diserap oleh air. Semakin kecil tingkat kekeruhan
suatu perairan, semakin dalam cahaya dapat masuk kedalam badan air, dan
demikian semakin besar kesempatan bagi vegetasi akuatis untuk melakukan proses
fotosintesis (Asdak, 2007).
F.
Zat Padat
Tersusprnsi (TSS)
Zat padat
tersuspensi (Total
Suspended Solid)
adalah semua zat padat (pasir, lumpur,
dan tanah liat) atau partikel-partikel
yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti
fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun
komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel-partikel anorganik. Zat padat tersuspensi merupakan tempat
berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal
dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan (Edward, 2003).
Kandungan zat padat tersuspensi yang
tinggi banyak mengurangi penetrasi cahaya matahari ke permukaan dan bagian yang lebih
dalam tidak berlangsung efektif akibat terhalang oleh zat padat tersuspensi, sehingga
fotosintesis tidak berlangsung sempurna. Sebaran zat padat tersuspensi di perairan antara lain dipengaruhi oleh masukan yang
berasal dari darat, ataupun dari udara dan perpindahan karena resuspensi endapan akibat pengikisan (Miller, 1995).
G.
Zat Padat
Terlarut (TDS)
Zat
padat terlarut (Total Dissolved Solid) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat
organic maupun anorganic) yang terdapat pada sebuah larutan. Umumnya
berdasarkan definisi di atas seharusnya zat yang terlarut dalam air (larutan)
harus dapat melewati saringan yang berdiameter 2 mikrometer (2×10-6 meter).
Aplikasi yang umum digunakan adalah untuk mengukur kualitas cairan biasanya
untuk pengairan, pemeliharaan aquarium, kolam budidaya, proses kimia, dan pembuatan air
mineral (Misnani, 2010).
Total padatan terlarut merupakan
bahan-bahan terlarut dalam air yang tidak tersaring dengan kertas saring millipore
dengan ukuran pori 0,45 μm. Padatan ini terdiri dari senyawa-senyawa
anorganik dan organik yang terlarut dalam air, mineral dan garam-garamnya.
Penyebab utama terjadinya TDS adalah bahan anorganik berupa ion-ion yang umum
dijumpai di perairan. Sebagai contoh air buangan sering mengandung molekul
sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan rumah
tangga dan industri pencucian (Misnani,
2010).
III.
METODOLOGI PRAKTIKUM
A.
Waktu
dan Tempat
Praktikum Manajemen Kualitas
Air ini dilakukan selama 24 jam, dimulai pada hari Sabtu Tanggal 9 Maret 2013 Pukul 09.30 Wita sampai hari Minggu Tanggal 10 Maret 2013 Pukul 09.30 Wita. Bertempat di Laboratorim Perikanan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Haluoelo Kendari.
B.
Alat dan
Bahan
Adapun alat beserta
kegunaanya yang digunakan pada
pratikum ini dapat dilihat pada Tabel
berikut :
Tabel 1. Alat Bahan serta Kegunaannya pada Praktikum
Manajemen Kualitas Air ini Adalah
Sebagai Berikut :
No. Alat
dan Bahan Satuan Kegunaan
1. Alat
-
pH
Meter - Alat untuk mengukur pH
-
DO
Meter mg/l Alat untuk mengukur DO
-
Thermometer 0C Alat
untuk mengambil organisme uji
-
Gelas
aqua - Untuk
menyimpan
sampel pH
-
Botol aqua - Menyimpan sampel
TSS dan TDS
-
Gelas
ukur ml Untuk mengukur
sampel air
-
Tabung
elenmeyer ml Menyimpan sampel
-
Kertas
saring
- Untuk menyaring
sampel air
-
Oven - Untuk
mengeringkan kertas saring
-
Timbangan
analitik gr Untuk menimbang bahan
-
Turbidimeter NTU Untuk
mengukur kekeruhan
2. Bahan
-
Sampel
air
kolam - Sebagai bahan
uji
-
Aquades - Untuk
membersikan alat setelah selesai
digunakan
C. Prosedur
Kerja
Adapun prosedur
kerja dari pratikum Manajemen Kualitas Air adalah sebagai berikut :
1.
Pengukuran
Suhu
a. Memasukkan
termometer ke dalam air dengan kedalaman tertentu.
b. Mengamati
perubahan yang terjadi pada termometer kemudian mencatat perubahan suhu yang
terjadi.
2.
Penentuan
pH
a. Memasukan ujung pH meter ke dalam air sampel
b.
Mengamati perubahan
yang terjadi pada pH meter serta melihat hasil (angka digital) yang tertera.
3.
Penentuan
Kesadahan Total
a.
Memipet
25 mL sampel
b.
Kemudian memasukkan ke dalam Erlenmeyer lalu menambahkan 2 mL
larutan Buffer,
c. Kemudian menambahkan sedikit indikator EBT hingga
berwarna merah muda dan menitrasi dengan
larutan DTA hingga berubah warna dari merah muda menjadi biru.
4. Pengukuran DO
a. Memasukkan
ujung DO meter ke dalam perairan kurang dari 15 menit.
b.
Mengamati perubahan
yang terjadi pada DO meter serta melihat hasil (angka digital) yang tertera.
5. Pengukuran Kekeruhan
a. Memasukkan
ujung Turbidimeter ke dalam perairan dengan kedalaman tertentu.
b.
Mengamati perubahan
yang terjadi pada DO meter serta melihat hasil (angka digital) yang tertera.
6. Pengukuran TSS
a.
Sampel disaring dengan menggunakan
kertas saring sebanyak 100 ml kemudian
menuangkan sampel air sebanyak 30 ml ke cawan
b. Memanasakan
kertas saring dalam oven selama 1 jam
c.
Mencatat berat kertas saring setelah
dipanaskan dalam oven
7.
Pengukuran TDS
a.
Sampel disaring dengan menggunakan
kertas saring sebanyak 100 ml kemudian menuangkan sampel air sebanyak 30 ml ke
cawan
b.
Memanaskan cawan yang berisi 30 ml
sampel air.
c.
Mencatat berat cawan setelah dipanaskan
dalam oven
D. Analisis Data
1. Pengukuran TSS
Rumus Total Suspended Solid = (
A – B ) X 1000
C
Keterangan:
A : Bobot kertas
saring awal
B : Bobot kertas saring
akhir
C
: ml sampel
2. Pengukuran TDS
Rumus Total Dissolved Solids = (
A – B ) X 1000
C
Keterangan:
A : Bobot cawan setelah saringan
B : Bobot cawan
sesudah saringan
C
: ml sampel
3. Pengukuran Kesadahan
Rumus Kesadahan = A X B X 1000
C
Keterangan :
A : ml titrasi
B : N Delta
C : ml sampel
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang kami lakukan dalam praktek
Manajemen Kualitas Air dapat dilihat
pada tabel berikut :
Tabel 2. Hasil pengamatan pratikum Manajemen Kualitas Air
|
PARAMETER YANG DIAMATI PADA STASIUN 1
|
|||||||
|
Lapangan
|
Laboratorium
|
||||||
|
Waktu
|
Suhu (0C)
|
DO (ppm)
|
Kekeruhan (NTU)
|
Kesadahan (0dH)
|
TSS (mg/L)
|
TDS (mg/L)
|
pH
|
|
09.30
|
29
|
2.44
|
55.7
|
0.56
|
0.000308
|
0.0003
|
7.42
|
|
10.30
|
31
|
2.85
|
55.7
|
0.6
|
0.000011
|
0.00132
|
6.89
|
|
11.30
|
30.1
|
2.35
|
55.7
|
0.72
|
0.000174
|
0.0003
|
6.87
|
|
12.30
|
30
|
2.59
|
55.8
|
0.6
|
0.000261
|
0.0001
|
7.33
|
|
13.30
|
31
|
8.63
|
55.9
|
0.52
|
0.00020
|
0.00008
|
7.64
|
|
14.30
|
32
|
8.86
|
55.8
|
-
|
-
|
-
|
7.84
|
|
15.30
|
32
|
7.73
|
56
|
-
|
-
|
-
|
7.83
|
|
16.30
|
32
|
8.66
|
55.9
|
-
|
-
|
-
|
7.77
|
|
17.30
|
33
|
7.53
|
73.8
|
-
|
-
|
-
|
7.81
|
|
18.30
|
30
|
4.44
|
55.8
|
-
|
-
|
-
|
7.84
|
|
19.30
|
32
|
6.28
|
55.6
|
-
|
-
|
-
|
7.88
|
|
20.30
|
32
|
7.9
|
55.5
|
-
|
-
|
-
|
7.7
|
|
21.30
|
31
|
7.35
|
55.5
|
-
|
-
|
-
|
7.55
|
|
22.30
|
30
|
7.46
|
77.4
|
-
|
-
|
-
|
7.62
|
|
23,30
|
29
|
6.26
|
55.7
|
-
|
-
|
-
|
7.55
|
|
00.30
|
31
|
7.86
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7.33
|
|
01.30
|
31
|
7.97
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7.34
|
|
02.30
|
29
|
7.45
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7.33
|
|
03.30
|
29
|
7.6
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7.4
|
|
04.30
|
29
|
7.62
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7.24
|
|
05.30
|
30
|
7.69
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7.34
|
|
06.30
|
29
|
7.87
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7.02
|
|
07.30
|
30
|
7.71
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7.08
|
|
08.30
|
30
|
7.48
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7.27
|
|
09.30
|
31
|
7.27
|
-
|
-
|
-
|
-
|
7.31
|
B. Pembahasan
1. Pengukuran
Suhu
Pada
perairan dangkal akan menunjukkan fluktuasi suhu air yang lebih besar dari pada
perairan yang dalam. Sedangkan organisme memerlukan suhu yang stabil atau
fluktuasi suhu yang rendah. Agar suhu air suatu perairan berfluktuasi rendah
maka perlu adanya penyebaran suhu. Hal tersebut tercapai secara sifat alam
antara lain seperti penyerapan (absorbsi) panas matahari pada bagian permukaan
air, angin, sebagai penggerak permindahan massa air dan aliran vertikal dari
air itu sendiri, terjadi bila di suatu perairan (danau) terdapat lapisan suhu
air yaitu lapisan air yang bersuhu rendah akan turun mendesak lapisan air yang
bersuhu tinggi naik ke-permukaan perairan. Selain itu, suhu air sangat
berpengaruh terhadap jumlah oksigen terlarut di dalam air. Jika suhu tinggi,
air akan lebih lekas jenuh dengan oksigen dibanding dengan suhunya rendah (Gusrina,
2008).
Berdasarkan
hasil pengamatan yang kami lakukan pada stasiun 1, sangat
jelas terlihat bahwa nilai suhu di kolam ini sangat fluktuatif dimana pada setiap jam pengukuran suhunya
selalu berubah. Salah satu faktor yang mempengaruhi suhu adalah penyerapan
(absorbsi) panas matahari pada bagian permukaan air. Dimana semakin tinggi
penyerapan panas pada bagian permukaan air maka suhu perairan juga akan semakin
tinggi.
Berdasarkan
tabel hasil pengamatan di atas,
fluktuatif suhu selama pengamatan dapat dilihat pada grafik di bawah ini :
Grafik
1. Hasil Pengukuran Suhu
Berdasarkan
grafik di atas suhu tertinggi terjadi pada pukul 17.30 Wita yaitu
sekitar 33 0C. Tinggihnya suhu pada jam
tersebut disebabkan oleh penyerapan (absorbsi) panas matahari pada bagian
permukaan air semakin tinggi, karena pada jam tersebut sudut datang cahaya langsung terabsorbsi ke
permukaan air, jika dibandingkan dengan sebelum jam 17.30 penyerapan panas
cenderung kurang karena terjadi penutupan awan serta adanya pohon yang ada
dipinggir kolam yang dapat menutupi sinar matahari. Tingginhya suhu juga di
karenakan tidak adanya angin maupun sirkulasi air sebagai penggerak permindahan
massa air dan aliran vertikal dari air itu sendiri, hal terjadi di suatu
perairan yang sifatnya permanen seperti kolam. Hal ini sesuai dengan pendapat
Gusrina (2008), yang menyatakan bahwa agar suhu air suatu perairan berfluktuasi rendah maka perlu
adanya penyebaran suhu. Hal tersebut tercapai secara sifat alam antara lain
sebagai berikut penyerapan
(absorbsi) panas matahari pada bagian permukaan air, adanya angin sebagai penggerak permindahan
massa air serta aliran
vertikal dari air itu sendiri.
Dari hasil pengamatan terhadap suhu,
apabila dihubungkan dengan parameter lainnya, misalnya kandungan oksigen
terlarut (DO), dimana pada pukul 16.30 Wita suhu pada perairan tempat
pengambilan sampel sekitar 32 0C sedangkan DOnya berkisar 8.66 mg/L
dan pada pukul 17.30 Wita suhu perairan naik menjadi 33 0C dan Donya
turun menjadi 7,53 mg/L. Hal ini sesuai dengan pernyataan Khordi dan Tancung
(2007), yang menyatakan bahwa semakin tinggi suhu maka kelarutan oksigen dalam
periran semakin berkurang.
Sedangkan suhu terendah
terjadi pada pukul 09.30, 23.30, 02.30 – 04.30
dan 06.30 Wita
yaitu sebesar 29 0C. Pada
saat ini, rendahnya suhu dipengaruhi
oleh besarnya sirkulasi udara yang terjadi sehingga terjadi penyebaran suhu secara vertikal dan
diikuti pula dengan tidak adanya sinar matahari yang bersinar. Hal ini sesuai
dengan yang diungkapkan oleh Barus (2002) bahwa pola temperatur ekosistem air
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran
panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggian geografis dan juga oleh
kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi. Suhu air juga sangat berpengaruh terhadap
proses kimia, fisika dan biologi di dalam perairan, sehingga dengan perubahan
suhu pada suatu perairan akan mengakibatkan berubahnya semua proses di dalam
perairan.
Suhu yang terdapat
di kolam tempat pengambilan sampel masih termasuk normal untuk kegiatan
budidaya. Hal ini sesuai pendapat Gusrina (2008), yang menyatakan bahwa kisaran
suhu air yang sangat diperlukan agar pertumbuhan ikan-ikan pada perairan tropis
dapat berlangsung berkisar antara 25° C – 32° C. Kisaran suhu tersebut biasanya
berlaku di Indonesia sebagai salah satu negara tropis sehingga sangat
menguntungkan untuk melakukan kegiatan budi daya ikan.
2. Pengukuran
Derajat Keasaman (pH) Perairan
Derajat keasaman atau
pH merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H+) yang mencirikan
keseimbangan asam dan basa. Nilai pH pada suatu perairan mempunyai pengaruh
yang besar terhadap organisme perairan sehingga seringkali dijadikan petunjuk
untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan (Odum, 1971).
Dari data hasil pengamatan diatas dapat
disimpulkan bahwa pH dalam kolam ini cukup normal bagi kegiatan budidaya, yaitu berkisar 7,88 – 7,02. Dimana pH tertinggi yaitu 7,88 pada pukul 19.30 Wita dan
7,84 yaitu pada pukul 14.30 dan 18.30 Wita. Sedangkan pH terendah pada pukul
06.30 Wita yaitu sekitar 7,02.
Adapun
kisaran pH yang kami amati pada stasiun 1 dapat dilihat pada grafik di bawah
ini :
Grafik
2. Hasil Pengukuran pH
Besarnya
pH di kolam tempat pengambilan sampel dipengaruhi
oleh banyaknya CO2
yang terlarut di perairan tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan diatas ketika menjelang pagi pH cenderung turun
karena pada pagi hari kandungan CO2 sangat tinggi yang dihasilkan
dari proses respirasi sehingga menyebabkan pH air turun. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Kordi K. dan Tancung (2007) mengatakan bahwa semakin
banyak CO2
yang dihasilkan dari hasil respirasi, reaksi bergerak ke kanan dan secara
bertahap melepaskan ion H+ yang menyebabkan pH air turun. Reaksi
sebaliknya terjadi dengan aktivitas fotosintesis yang membutuhkan banyak ion CO2, menyebabkan pH air naik.
3.
Pengukuran Kesadahan
Total
Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk
membentuk busa apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air
akan dapat membentuk busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air
berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa (Arifin, 2008).
Kesadahan merupakan salah satu sifat kimia yang dimiliki
oleh air. Kesadahan terutama disebabkan oleh keberadaan ion-ion kalsium (Ca2+)
dan magnesium (Mg2+) di dalam air. Keberadaannya di dalam air
mengakibatkan sabun akan mengendap sebagai garam kalsium dan magnesium,
sehingga tidak dapat membentuk emulsi secara efektif. Kation-kation polivalen
lainnya juga dapat mengendapkan sabun, tetapi karena kation polivalen umumnya
berada dalam bentuk kompleks yang lebih stabil dengan zat organik yang ada,
maka peran kesadahannya dapat diabaikan. Oleh karena itu penetapan kesadahan
hanya diarahkan pada penentuan kadar Ca2+ dan Mg2+.
Kesadahan total didefinisikan sebagai jumlah miliekivalen (mek) ion Ca2+
dan Mg2+ tiap liter sampel air (Anonim, 2013).
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok 5
dan 10 pada stasiun 1 kesadahan total dari sampel yang kami amati yaitu 0,52 0dH.
Hal ini disebabkan kandungan mineral dalam air sampel yang berasal dari batuan
dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun ikatan molekul sangat sedikit. Dari
data tersebut menunjukan bahwa tingkat kesadahan dari perairan tempat
pengambilan sampel masuk dalam kategori lunak (soft). Hal ini sesuai dengan pendapat Andrews , et. al.,
(1988) dalam Khordi dan Tancung (2007)
seperti yang dijabarkan pada tabel di bawah ini :
Tabel 3. Kadar CaCO3
dan derajat Kesadahan/Kekerasan
|
Istilah
|
Kadar CaCO3 (mg/L)
|
Kesadahan (0dH)
|
|
Soft (lunak)
Moderately soft (agak lunak)
Slightly hard (sedang)
Moderately hard (agak keras)
Hard (keras)
Very hard (amat keras)
|
0-50
50-100
100-200
200-300
300-450
>450
|
0-3
3-6
6-12
12-16
16-25
>25
|
Kaitannya
dengan aplikasi budidaya, organisme perairan membutuhkan kesadahan tertentu.
Namun, kebanyakan senang berada di air lunak. Umumnya hewan air lebih mudah
beradaptasi dari air yang sifatnya lunak ke keras di banding keras ke lunak.
Secara umum pertumbuhan dan perkembangan hewan air lebih menyukai air dengan
tingkat kesadahan/kekerasan 3-10 0dH (Khordi dan Tancung, 2007).
4.
Pengukuran
Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen masuk dalam air
melalui beberapa proses. Oksigen dapat terdifusi secara langsung dari atmosfir
setelah terjadi kontak antara permukaan air dengan udara yang mengandung
oksigen serta bersumber
dari proses fotosintesis
tumbuhan air merupakan sumber utama oksigen terlarut dalam air (Khordi dan
Tancung, 2007).
Berdasarkan
hasil pengamatan pada stasiun 1 terlihat jelas bahwa DO tertinggi berada pada
pukul 14.30 Wita dengan nilai 8,86 mg/L dan pukul 13.30 Wita yaitu sekitar 8.63
mg/L sedangkan nilai DO terendah terjadi pada pukul 09.30 sampai 12.30 Wita
hanya berkisar 2,44 sampai 2.85 mg/L. Namun setelah naik pada pukul 14.30 Wita
kemudian turun kembali menjadi 4.44 mg/L pada pukul 18.30 Wita.
Adapun
kisaran DO yang kami amati pada stasiun 1 dapat dilihat pada grafik di bawah
ini :
Grafik
3. Hasil Pengukuran DO
Tinggihnya
kadar oksigen terlarut pada pukul 13.30 dan 14.30 Wita dikarenakan sinar
matahari pada saat ini bersinar secara maksimal, sehingga proses fotosintesis
fitoplankton dalam perairan tetap berlangsung, sedangkan menurunnya kadar
oksigen terlarut pada pukul 18.30 Wita ini dikarenakan matahari pada saat ini
tidak lagi bersinar, sehingga menyebabkan proses fotosinteis tumbuhan air tidak
terjadi dan aktivitas organisme dekomposer mulai berlangsung untuk mengurai
bahan-bahan organik yang ada di perairan, aktivitas tersebut banyak memerlukan
oksigen. Hal ini sesuai dengan pernyataan Barus (2002), bahwa sumber utama
oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari udara melalui kontak
langsung dengan air dan dari proses fotosintesis selanjutnya DO berkurang
melalui aktifitas respirasi yang dilakukan oleh organisme perairan. Serta di
perkuat lagi oleh pendapat Khordi dan Tancung (2007), yang menyatakan bahwa
pada malam hari kosentrasi kandungan oksigen terlarut (DO) dalam air cenderung
berkurang karena tidak terjadinya aktivitas fotosintesis, serta oksigen banyak
digunakan dalam proses respirasi atau dekomposisi bahan-bahan organik
Sedangkan
pada pengamatan selanjutnya yaitu mulai pukul 23.30 Wita kandungan Donya yaitu
6,26 mg/L dan pada pukul 04.30 Wita menjelang pagi kandungan Donya berkisar
7,62 mg/L serta pengukuran terakhir pada pukul 09.30 pagi Wita kandungan Donya
adalah 7,27 mg/L. Dari data tersebut terlihat bahwa kandungan oksigen
terlarutnya cenderung berfluktuatif, hal ini dikerenakan kondisi perairan kolam
tempat pratikum yaitu kolam normal permanent, yaitu tidak adanya sistem
sirkulasi air, sehingga suplay oksigen yang terdifusi secara
langsung dari atmosfir cenderung
sedikit.
Dari hasil
pengamatan secara keseluruhan menunjukan bahwa kondisi perairan yang menjadi
lokasi pratikum masih normal untuk kegiatan budidaya. Pernyataan di atas
didukung juga oleh Khordi dan Tancung (2007), yang menyatakan bahwa pada
perairaan dengan kosentrasi oksigen di bawah 4 ppm, beberapa jenis ikan masih
mampu bertahan hidup, akan tetapi nafsu makan mulai menurun. Hanya ikan-ikan
yang memiliki alat pernapasan tambahan yang mampu hidup pada perairan yang
kandungan oksigennya rendah. Untuk itu, kosentrasi oksigen yang baik dalam
budidaya perairan adalah antara 5-7 ppm atau mg/L.
5.
Kekeruhan
(Turbiditas)
Salah satu factor
yang mempengaruhi kualitas air adalah Turbiditas (Kekeruhan). Turbiditas merupakan kandungan bahan organik maupun anorganik
yang terdapat di perairan sehingga mempengaruhi proses kehidupan organisme yang
ada di perairan tersebut. Turbiditas sering di sebut dengan kekeruhan, apabila
di dalam air media terjadi kekeruhan yang tinggi maka kandungan oksigen akan
menurun, hal ini disebabkan intensitas cahaya matahari yang masuk kedalam
perairan sangat terbatas sehingga tumbuhan/phytoplankton tidak dapat melakukan
proses fotosintesis untuk mengasilkan oksigen (Wijanarko, P. 2005).
Hasil pengamatan terhadap kekeruhan selama 15 jam, di
mulai pada pukul 09.30 Wita sampai dengan pukul 23.30 Wita di lapangan, menunjukkan
bahwa tingkat kekeruhan (turbiditas) tertinggi pada stasiun I yaitu pada pukul 22.30
Wita yaitu sekitar 77,35 NTU dan pada pukul 17.30 Wita yaitu 73, 75 NTU.
Sedangkan pada pengukuran yang lainnya tingkat kekeruhan hanya berkisar 55,5
NTU sampai 55,90 NTU.
Tingginya turbiditas
di stasiun I, kemungkinan disebabkan benda-benda halus yang tersuspensi (seperti lumpur dsb), jasad-jasad renik yang merupakan
plankton dan perubahan warna air (yang antara lain ditimbulkan oleh zat-zat koloid
berasal dari daun-daun tumbuhan yang terektrak). Hal ini sesuai
dengan pendapat Khordi dan Tancung (2007), yang menyatakan bahwa Kekeruhan disebabkan oleh partikel-partikel tanah.
Partikel-partikel tanah mampu mengikat beberapa mineral, plankton maupun bahan
organik kolam maupun tambak. Apabila jumlahnya terlalu banyak bisa mengganggu
penglihatan organisme budidaya sehingga kesulitan dalam mencari makan. Semakin
kecil tingkat kekeruhan suatu perairan, semakin dalam cahaya dapat masuk
kedalam badan air, dan demikian semakin besar kesempatan bagi vegetasi akuatis
untuk melakukan proses fotosintesis.
6.
Zat Padat
Tersusprnsi (TSS)
Total padatan tersuspensi adalah
bahan-bahan tersuspensi (diameter >1μm) yang tertahan pada saringan millipore
dengan diameter pori 0,45 μm.TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta
jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang
terbawa ke dalam badan air. Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan
dapat menimbulkan kekeruhan air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju
fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas primer perairan menurun, yang
pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan. Padatan
tersuspensi yang tinggi akan mempengaruhi biota di perairan yaitu menghalangi
dan mengurangi penentrasi cahaya ke dalam badan air, sehingga mengahambat
proses fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Kondisi ini
akan mengurangi pasokan oksigen terlarut dalam badan air (Nybakken, 1992).
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok 5 dan 10 pada
stasiun 1 total padatan tersuspensi yaitu sekitar 0.00020 ppm. Hal ini
disebabkan partikel lumpur maupun tanah dan jasad-jasad renik yang berupa plankton.
Dari pernyataan Effendi (2003), kolam budidaya memiliki kadar TSS yang sangat
baik apabila berada di bawah kisaran kurang 25 ppm. Hal ini sangat cocok untuk
kegiatan budidaya hewan akuatik karena tidak memiliki pengaruh yang menghambat
pertumbuhan atau menyebabkan kematian pada hewan akuatik.
7. Zat Padat Terlarut (TDS)
Total padatan terlarut (TDS) merupakan
bahan-bahan terlarut dalam air yang tidak tersaring dengan kertas saring
millipore dengan ukuran pori 0,45 μm. Padatan ini terdiri dari senyawa-senyawa
anorganik dan organik yang terlarut dalam air, mineral dan garam-garamnya.
Penyebab utama terjadinya TDS adalah bahan anorganik berupa ion-ion yang umum
dijumpai di perairan. Sebagai contoh air buangan sering mengandung molekul
sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan rumah
tangga dan industri pencucian (Misnani, 2010).
Berdasakan hasil pengamatan kelompok
kami pada stasiun 1 total padatan terlarut dari air sampel yaitu sekitar 0.00008 ppm. Kosentrasi
TDS dari perairan tempat pengambilan sampel termasuk normal dan belum
memberikan dampak negatif terhadap organisme budidaya serta masih berada pada
kisaran baku mutu yang diijinkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun
2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Penyebab
utama dari TDS yaitu karena tempat pengambilan air sampel dekat dengan dengan
sekret Mapiara sehingga tidak menutup kemungkinan dalam perairan tersebut
mengandung molekul sabun deterjen dan surfaktan yang larut dalam air, misalnya air
buangan rumah tangga. Hal ini sesuai dengan pernyataan Misnani (2010), yang
menyatakan penyebab utama terjadinya TDS adalah bahan anorganik berupa ion-ion
yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh air buangan sering mengandung
molekul sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan
rumah tangga dan industri pencucian
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil pengamatan dan pembahasan di atas saya sebagai penulis ada beberapa hal
yang dapat saya simpulkan adalah sebagai berikut :
1.
Berdasarkan
hasil pengamatan, suhu sangat fluktuatif. Salah satu faktor yang mempengaruhi suhu adalah penyerapan
(absorbsi) panas matahari pada bagian permukaan air.
2.
Besarnya
pH di kolam tempat pengambilan sampel dipengaruhi
oleh banyaknya CO2
yang terlarut di perairan.
3.
Kesadahan total dari sampel yang kami
amati yaitu 0,52 0dH. Hal ini disebabkan kandungan mineral dalam air
sampel yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun
ikatan molekul sangat sedikit.
4.
Kandungan oksigen terlarut dalam
perairan dipengaruhi oleh sinar matahari untuk proses fotosintesis.
5.
Dari hasil pengamatan turbiditas
perairan termasuk tinggi, kemungkinan disebabkan benda-benda halus yang tersuspensi (seperti lumpur dsb), jasad-jasad renik yang merupakan
plankton dan dari
daun-daun tumbuhan yang terurai.
6.
Total padatan tersuspensi yaitu sekitar
0.00020 ppm. Hal ini
disebabkan partikel lumpur maupun tanah dan jasad-jasad renik yang berupa
plankton.
7.
Total padatan terlarut dari air sampel
yaitu sekitar 0.00008 ppm.
Kosentrasi TDS dari perairan tempat pengambilan sampel termasuk normal dan
belum memberikan dampak negatif terhadap organisme budidaya.
8.
Suhu
dan kelarutan oksigen berbanding terbalik, yaitu semakin tinggi
suhu maka kelarutan oksigen dalam periran semakin berkurang.
B. Saran
Adapun saran yang dapat saya ajukan
untuk kebaikan pratikum kedepannya sebaiknya alat yang di gunakan lebih lengkap dan dirawat
dengan baik agar pratikum tidak kekurangan data dan dapat melakukan pengukuran
parameter kualitas air sampai selesai.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2013.
Didownload dari http://younggeomorphologys. wordpress.
com/2011/03/19/konsepsi-kebutuhan-air-batasan-dan-cara-perhitungannya/ Diakses
18 Maret 2013.
Asdak, 2007. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai. Gadjah.
Barus, T. A, 2002. Pengantar Limnologi. Jurusan Biologi
FMIPA USU. Medan
Basmi. 2000. Planktonologi : Plankton sebagai Bioindikator Kualitas Perairan.
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Boyd, C.E., Wood, C.W., Thunjai T. 2002. Aquaculture Pond
Bottom Soil Quality Management. Pond Dynamic/ Aquaculture Collaborative
Research Support Programe, Oregon State university, Corvallis, Oregon.
______., 1995. Pengaturan Aerasi Tambak Udang. Dalam
Majalah Primadona, Edisi Nopember, Jakarta : 7-12.
Edward, A. Sediadi, 2003. Jurnal Perikanan Universitas Sam Ratulangi.
Gusrina,
2008. Budidaya Ikan Jilid I. PT Macanan jaya cemerlang. Jakarta.
Hargreaves, John A. 1999. Control of Clay Turbidity in
Ponds. Southern Regional Aquaculture Center (SRAC), Publication No.460. May.
Hefni Effendi,2007, Telaa kualitas air
; Kanisius 2003, yokyakara.
Kordi, M.G.H.K.,dan A.B. Tancung. 2007. Pengelolaan
Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta. Jakarta.
_____ M.G.H.K., 1996. Parameter Kualitas Air. Penerbit
Karya Anda, Surabaya.
Misnani.
2010. Praktikum Teknik Lingkungan Total Padatan Terlarut. Online http://misnanidulhadi.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 18 Maret 2013
Nybakken, J.W.,
1992. (Terjemahan: H.M. Eidman et al) Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis.
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: pp. 6 – 29; 290 -
324.
Odum, E. P.
1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sounders Company. Philadelphia, London.
Subarijanti, H.
U. 2005. Pemupukan dan kesuburan perairan . Fakultas perikanan. Univerista
Brawijaya. Malang.
Wijanarko, P. 2005. Catatan Kuliah Manajemen Kualitas
Air. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang.