Senin, 07 Juli 2014

PKM_KASOAMI_UHO



LAPORAN PRAKTIKUM
MANAJEMEN KUALITAS AIR




             OLEH :
NAMA          :              LA ODE TANDA
STAMBUK  :              I1A210127
KELMPOK  :  V (Lima)
ASISTEN      :  ASMARIANI, S.Pi


PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2013

  I.  PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Air sebagai media tempat hidup organisme yang dibudidayakan harus memenuhi persyaratan kuantitas (jumlah) dan kualitas (mutu). Suplay air yang cukup belum menjamin keberhasilan panen bila pengelolaan kualitas air selama pemeliharaan tidak memadai. Pengelolaan kualitas air memegang peranan penting dalam keberhasilan budidaya perairan. Sasarannya adalah terjaminnya kualitas air yang memenuhi syarat bagi kehidupan dan pertumbuhan organisme budidaya selama periode pemeliharaan (Khordi, H dan Tancung, 2007).
Kualitas air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya untuk keperluan air minum, perikanan, pengairan/irigasi, rekreasi dan sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui cara pengelolaan/manajemen kondisi air untuk menjamin keamanan dan kelestarian dalam penggunaanya (Subarijanti, 2005).
Manajemen kualitas air adalah merupakan suatu upaya memanipulasi kondisi lingkungan sehingga berada dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan. Di dalam usaha perikanan, diperlukan untuk mencegah aktivitas manusia yang mempunyai pengaruh negatif terhadap kualitas air, misalnya akibat pengaruh pemberian pakan yang berlebihan dan penerapan padat penebaran tingggi (Widjanarko, 2005).
Manajemen kualitas air mempunyai peran yang sangat penting pada keberhasilan budidaya. Air, sebagai media hidup ikan, berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan pertumbuhannya. Kualitas air menentukan keberadaan berbagai jenis organisme yang ada dalam perairan, baik terhadap kultivan yang dibudidayakan maupun biota lainnya sebagai penyusun ekosistem budidaya tersebut. Keberhasilan usaha budidaya ikan tidak lepas dari kondisi lingkungan perairan tempat usaha budidaya tersebut. Baik buruknya kualitas perairan sangat berperan besar. Kualitas air yang baik akan memacu pertumbuhan ikan dengan cepat. Begitu juga sebaliknya, kualitas air yang buruk akan menghambat pertumbuhan ikan yang dipelihara (Khordi, 1996).
Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air yang menjadi tempat budidaya. Pengujian yang biasa dilakukan untuk kepentingan terjaminnya kualitas air adalah metode uji kimia, fisika dan biologi. Adapun parameter yang menjadi uji penentuan kriteria kualitas air  agar dapat mengendalikan perubahan kualitas air adalah pengukuran  suhu air, derajat keasaman (pH), kesadahan, kandungan oksigen terlarut (DO), kekeruhan atau turbiditas serta TTS dan TDS.
B.     Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dari praktikum Manajemen Kualitas Air ini adalah sebagai berikut :
1.      Mahasiswa harus dapat mengetahui dan memahami cara pengukuran beberapa parameter kualitas air yang mempengaruhi produksi ikan.
2.      Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami prinsip dasar teknik pengelolaan kualitas air media budidaya, agar dapat mendukung tingkat kelayakan usaha budidaya ikan.
            Sedangkan manfaat dari praktikum Manajemen Kualitas Air ini yaitu :
1.      Untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi mahasiswa sebagai pratikan mengenai cara penggunaan alat dan pengukuran beberapa parameter kualitas air.
3.      Agar dapat memahami prinsip dasar teknik pengelolaan kualitas air dalam media budidaya agar dapat mendukung tingkat kelayakan usaha budidaya ikan.






II.  TINJAUAN PUSTAKA
A.    Suhu Air
Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu penyebaran organisme baik di lautan maupun di perairan air tawar dibatasi oleh suhu perairan tersebut. Suhu sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan biota air. Secara umum laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan kenaikan suhu, dapat menekan kehidupan hewan budidaya bahkan menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrim (drastis). Kisaran suhu optimal bagi kehidupan ikan budidaya di perairan tropis adalah antara 28 °C – 32 °C (Khordi, H dan Tancung, 2007).  
Air mempunyai kapasitas yang besar untuk menyimpan panas sehingga suhunya relatif konstan dibandingkan dengan suhu udara. Perbedaan suhu air antara pagi dan siang hari hanya sekitar 2°C, misalnya suhu pagi 28°C suhu siang 30°C. Energi cahaya matahari sebagian besar diabsorpsi di lapisan permukaan air. Semakin ke dalam energinya semakin berkurang. Konsentrasi bahan-bahan terlarut di dalam air akan menaikkan penyerapan panas. Terjadinya transfer panas dari lapisan atas ke lapisan bawah tergantung dari kekuatan pengadukan air (angin, kincir, dan sebagainya) (boyd, 1995).
B.     Derajat Keasaman (pH) Perairan
pH didefinisikan sebagai logaritme negatif dari konsentrasi ion hidrogen [H+] yang mempunyai skala antara 0 sampai 14. pH mengindikasikan apakah air tersebut netral, basa atau asam. Air dengan pH dibawah 7 termasuk asam dan diatas 7 termasuk basa. pH merupakan variabel kualitas air yang dinamis dan berfluktuasi sepanjang hari. Pada perairan umum yang tidak dipengaruhi aktivitas biologis yang tinggi, nilai pH jarang mencapai diatas 8,5, tetapi pada tambak ikan atau udang, pH air dapat mencapai 9 atau lebih. Perubahan pH ini merupakan efek langsung dari fotosintesis yang menggunakan CO2 selama proses tersebut (Boyd, 2002).
pH air mempengaruhi tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi tingkat kehidupan jasad renik. Ketika fotosintesis terjadi pada siang hari, CO2 banyak terpakai dalam proses tersebut. Turunnya konsentrasi CO2 akan menurunkan konsentrasi H+ sehingga menaikkan pH air. Sebaliknya pada malam hari semua organisme melakukan respirasi yang menghasilkan CO2 sehingga pH menjadi turun. Fluktuasi pH yang tinggi dapat terjadi jika densitas plankton tinggi. Tambak/kolam dengan total alkalinitas yang tinggi mempunyai fluktuasi pH yang lebih rendah dibandingkan dengan tambak/kolam yang beralkalinitas rendah. Hal ini disebabkan kemampuan total alkalinitas sebagai buffer atau penyangga. Berdasarkan hal ini, maka usaha budidaya perairan akan berhasil baik dalam air dengan pH 6,5 – 9,0, dan kisaran optimal adalah 7,5 – 8,7 (Khordi, H dan Tancung, 2007).
C.    Kesadahan Total
Kesadahan atau sering disebut juga kekerasan air (hardness) disebabkan oleh banyaknya mineral dalam air yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun ikatan molekul. Elemen terbesar yang terkandung dalam air yaitu kalsium (Ca++), magnesium (Mg++), natrium (Na+) dan kalium (K+). Ion-ion tersebut dapat berikatan dengan CO3-, HCO3, S04-, Cl-, NO3- dan PO4-. Kadar mineral tersebut dalam tanah sangat bervariasi, tergantung jenis tanahnya. Kandungan meneral inilah yang menentukan parameter keasaman dan kekerasan air (Buckman dan Brady dalam Khordi. H dan Tancung 2007).
Jenis hewan budidaya di dalam air membutuhkan kekerasan tertentu. Namun, kebanyakan senang berada di air lunak. Umumnya hewan air lebih mudah beradaptasi dari air yang sifatnya lunak (dengan kesadahan kurang 50 ppm CaCo3 eq) ke air yang sifatnya sadah (yang berkesadahan 50 ppm) dibanding sadah ke lunak. Secara umum pertumbuhan dan perkembangan hewan air lebih menyukai air dengan tingkat kesadahan/kekerasan 3-10 0dH (derajat degress Hardness) (Khordi, H dan Tancung, 2007).

D.    Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen terlarut merupakan variabel kualitas air yang sangat penting dalam budidaya perikanan. Semua organisme akuatik membutuhkan oksigen terlarut untuk metabolisme. Kelarutan oksigen dalam air tergantung pada suhu dan salinitas. Kelaruran oksigen akan turun jika suhu dan temperatur naik (Boyd, 1995). Hal ini perlu diperhatikan karena dengan adanya kenaikan suhu air, hewan air akan lebih aktif sehingga memerlukan lebih banyak oksigen.
Oksigen masuk dalam air melalui beberapa proses. Oksigen dapat terdifusi secara langsung dari atmosfir setelah terjadi kontak antara permukaan air dengan udara yang mengandung oksigen 21% (Boyd, 1995). Fotosintesis tumbuhan air merupakan sumber utama oksigen terlarut dalam air. Pada saat cuaca mendung atau hujan dapat menghambat pertumbuhan fitoplankton karena kekurangan sinar matahari untuk proses fotosintesis. Kondisi ini akan menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut karena oksigen tidak dapat diproduksi sementara organisme akuatik tetap mengkonsumsi oksigen. Keterbatasan sinar matahari menembus badan air dapat juga disebabkan oleh tingginya partikel yang ada dalam kolom air, baik karena bahan organik maupun densitas plankton yang terlalu tinggi. Hal ini dapat menyebabkan terganggunya fotosintesis algae yang ada di dasar tambak  (Hargreaves, 1999).
E.     Kekeruhan (Turbiditas)
Kekeruhan disebabkan oleh partikel-partikel tanah. Partikel-partikel tanah mampu mengikat beberapa mineral, plankton maupun bahan organik kolam maupun tambak. Apabila jumlahnya terlalu banyak bisa mengganggu penglihatan organisme budidaya sehingga kesulitan dalam mencari makan (Khordi, H dan Tancung, 2007).
Kekeruhan air dapat dianggap sebagai indikator kemampuan air dalam meloloskan cahaya yang jatuh kebadan air, apakah cahaya tersebut kemudian disebarkan atau diserap oleh air. Semakin kecil tingkat kekeruhan suatu perairan, semakin dalam cahaya dapat masuk kedalam badan air, dan demikian semakin besar kesempatan bagi vegetasi akuatis untuk melakukan proses fotosintesis (Asdak, 2007).
F.     Zat Padat Tersusprnsi (TSS)
Zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid) adalah semua zat padat (pasir, lumpur, dan tanah liat) atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel-partikel anorganik. Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan (Edward, 2003).
Kandungan zat padat tersuspensi yang tinggi banyak mengurangi penetrasi cahaya matahari ke permukaan dan bagian yang lebih dalam tidak berlangsung efektif akibat terhalang oleh zat padat tersuspensi, sehingga fotosintesis tidak berlangsung sempurna. Sebaran zat padat tersuspensi di perairan antara lain dipengaruhi oleh masukan yang berasal dari darat, ataupun dari udara dan perpindahan karena resuspensi endapan akibat pengikisan (Miller, 1995).
G.    Zat Padat Terlarut (TDS)
Zat padat terlarut (Total Dissolved Solid) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organic maupun anorganic) yang terdapat pada sebuah larutan. Umumnya berdasarkan definisi di atas seharusnya zat yang terlarut dalam air (larutan) harus dapat melewati saringan yang berdiameter 2 mikrometer (2×10-6 meter). Aplikasi yang umum digunakan adalah untuk mengukur kualitas cairan biasanya untuk pengairan, pemeliharaan aquarium, kolam budidaya, proses kimia, dan pembuatan air mineral (Misnani, 2010).
Total padatan terlarut merupakan bahan-bahan terlarut dalam air yang tidak tersaring dengan kertas saring millipore dengan ukuran pori 0,45 μm. Padatan ini terdiri dari senyawa-senyawa anorganik dan organik yang terlarut dalam air, mineral dan garam-garamnya. Penyebab utama terjadinya TDS adalah bahan anorganik berupa ion-ion yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh air buangan sering mengandung molekul sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan rumah tangga dan industri pencucian (Misnani, 2010).

















III. METODOLOGI PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Praktikum Manajemen Kualitas Air ini dilakukan selama 24 jam, dimulai  pada hari Sabtu Tanggal 9 Maret 2013 Pukul 09.30 Wita sampai hari Minggu Tanggal 10 Maret 2013 Pukul 09.30 Wita. Bertempat di Laboratorim Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoelo Kendari.
B.     Alat dan Bahan
Adapun alat beserta kegunaanya yang digunakan pada pratikum ini dapat dilihat pada Tabel  berikut :
Tabel 1.  Alat Bahan serta Kegunaannya pada Praktikum Manajemen  Kualitas Air ini Adalah Sebagai Berikut :
 No.    Alat dan Bahan               Satuan                   Kegunaan
  1.       Alat
-       pH Meter                         -              Alat untuk  mengukur pH
-       DO Meter                      mg/l          Alat untuk mengukur DO
-       Thermometer                  0C            Alat untuk mengambil organisme uji
-       Gelas aqua                       -              Untuk menyimpan sampel pH
-       Botol aqua                       -              Menyimpan sampel TSS dan TDS
-       Gelas ukur                      ml            Untuk mengukur sampel air
-       Tabung elenmeyer          ml            Menyimpan sampel
-       Kertas saring                   -              Untuk menyaring sampel air
-       Oven                                -              Untuk mengeringkan kertas saring
-       Timbangan analitik         gr Untuk menimbang bahan
-       Turbidimeter                  NTU         Untuk mengukur kekeruhan
  2.       Bahan 
-       Sampel air kolam             -              Sebagai bahan uji   
-       Aquades                          -                   Untuk membersikan alat setelah  selesai digunakan
C.    Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dari pratikum Manajemen Kualitas Air adalah sebagai berikut :
1.      Pengukuran Suhu
a.       Memasukkan termometer ke dalam air dengan kedalaman tertentu.
b.      Mengamati perubahan yang terjadi pada termometer kemudian mencatat perubahan suhu yang terjadi.
2.      Penentuan pH
a.       Memasukan ujung pH meter ke dalam air sampel
b.      Mengamati perubahan yang terjadi pada pH meter serta melihat hasil (angka digital) yang tertera.
3.      Penentuan Kesadahan Total
a.       Memipet 25 mL sampel
b.      Kemudian memasukkan ke dalam Erlenmeyer lalu menambahkan 2 mL larutan Buffer,
c.       Kemudian menambahkan sedikit indikator EBT hingga berwarna merah muda dan menitrasi dengan larutan DTA hingga berubah warna dari merah muda  menjadi biru.
4.      Pengukuran DO
a.       Memasukkan ujung DO meter ke dalam perairan kurang dari 15 menit.
b.      Mengamati perubahan yang terjadi pada DO meter serta melihat hasil (angka digital) yang tertera.
5.      Pengukuran Kekeruhan
a.       Memasukkan ujung Turbidimeter ke dalam perairan dengan kedalaman tertentu.
b.      Mengamati perubahan yang terjadi pada DO meter serta melihat hasil (angka digital) yang tertera.
6.      Pengukuran TSS
a.       Sampel disaring dengan menggunakan kertas saring sebanyak 100 ml kemudian menuangkan sampel air sebanyak 30 ml ke cawan
b.     Memanasakan kertas saring dalam oven selama 1 jam
c.      Mencatat berat kertas saring setelah dipanaskan dalam oven
7.      Pengukuran TDS
a.       Sampel disaring dengan menggunakan kertas saring sebanyak 100 ml kemudian menuangkan sampel air sebanyak 30 ml ke cawan
b.      Memanaskan cawan yang berisi 30 ml sampel air.
c.       Mencatat berat cawan setelah dipanaskan dalam oven 
D.    Analisis Data
1.      Pengukuran TSS
Rumus Total Suspended Solid =      ( A – B ) X  1000
                                                                        C
Keterangan:
A : Bobot kertas saring awal
B : Bobot kertas saring akhir
C : ml sampel
2.      Pengukuran TDS
Rumus Total Dissolved Solids =      ( A – B ) X  1000
                                                                       C
Keterangan:
A : Bobot cawan setelah saringan
B : Bobot cawan sesudah saringan
C : ml sampel

3.      Pengukuran Kesadahan
Rumus Kesadahan =   A X B X 1000
                                              C
Keterangan :
A : ml titrasi
B : N Delta
C : ml sampel













IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan yang kami lakukan dalam praktek Manajemen Kualitas Air  dapat dilihat pada tabel  berikut :
Tabel 2. Hasil pengamatan pratikum Manajemen Kualitas Air
PARAMETER YANG DIAMATI PADA STASIUN 1

Lapangan
Laboratorium
Waktu
Suhu (0C)
DO (ppm)
Kekeruhan (NTU)
Kesadahan (0dH)
TSS (mg/L)
TDS (mg/L)
pH
09.30
29
2.44
55.7
0.56
0.000308
0.0003
7.42
10.30
31
2.85
55.7
0.6
0.000011
0.00132
6.89
11.30
30.1
2.35
55.7
0.72
0.000174
0.0003
6.87
12.30
30
2.59
55.8
0.6
0.000261
0.0001
7.33
13.30
31
8.63
55.9
0.52
0.00020
0.00008
7.64
14.30
32
8.86
55.8
-
-
-
7.84
15.30
32
7.73
56
-
-
-
7.83
16.30
32
8.66
55.9
-
-
-
7.77
17.30
33
7.53
73.8
-
-
-
7.81
18.30
30
4.44
55.8
-
-
-
7.84
19.30
32
6.28
55.6
-
-
-
7.88
20.30
32
7.9
55.5
-
-
-
7.7
21.30
31
7.35
55.5
-
-
-
7.55
22.30
30
7.46
77.4
-
-
-
7.62
23,30
29
6.26
55.7
-
-
-
7.55
00.30
31
7.86
-
-
-
-
7.33
01.30
31
7.97
-
-
-
-
7.34
02.30
29
7.45
-
-
-
-
7.33
03.30
29
7.6
-
-
-
-
7.4
04.30
29
7.62
-
-
-
-
7.24
05.30
30
7.69
-
-
-
-
7.34
06.30
29
7.87
-
-
-
-
7.02
07.30
30
7.71
-
-
-
-
7.08
08.30
30
7.48
-
-
-
-
7.27
09.30
31
7.27
-
-
-
-
7.31

B.     Pembahasan
1.      Pengukuran Suhu
Pada perairan dangkal akan menunjukkan fluktuasi suhu air yang lebih besar dari pada perairan yang dalam. Sedangkan organisme memerlukan suhu yang stabil atau fluktuasi suhu yang rendah. Agar suhu air suatu perairan berfluktuasi rendah maka perlu adanya penyebaran suhu. Hal tersebut tercapai secara sifat alam antara lain seperti penyerapan (absorbsi) panas matahari pada bagian permukaan air, angin, sebagai penggerak permindahan massa air dan aliran vertikal dari air itu sendiri, terjadi bila di suatu perairan (danau) terdapat lapisan suhu air yaitu lapisan air yang bersuhu rendah akan turun mendesak lapisan air yang bersuhu tinggi naik ke-permukaan perairan. Selain itu, suhu air sangat berpengaruh terhadap jumlah oksigen terlarut di dalam air. Jika suhu tinggi, air akan lebih lekas jenuh dengan oksigen dibanding dengan suhunya rendah (Gusrina, 2008).
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan pada stasiun 1, sangat jelas terlihat bahwa nilai suhu di kolam ini sangat fluktuatif dimana pada setiap jam pengukuran suhunya selalu berubah. Salah satu faktor yang mempengaruhi suhu adalah penyerapan (absorbsi) panas matahari pada bagian permukaan air. Dimana semakin tinggi penyerapan panas pada bagian permukaan air maka suhu perairan juga akan semakin tinggi.
Berdasarkan tabel hasil pengamatan di atas, fluktuatif suhu selama pengamatan dapat dilihat pada grafik di bawah ini :
Grafik 1. Hasil Pengukuran Suhu
Berdasarkan grafik di atas suhu tertinggi terjadi pada pukul 17.30 Wita yaitu sekitar 33 0C. Tinggihnya suhu pada jam tersebut disebabkan oleh penyerapan (absorbsi) panas matahari pada bagian permukaan air semakin tinggi, karena pada jam tersebut  sudut datang cahaya langsung terabsorbsi ke permukaan air, jika dibandingkan dengan sebelum jam 17.30 penyerapan panas cenderung kurang karena terjadi penutupan awan serta adanya pohon yang ada dipinggir kolam yang dapat menutupi sinar matahari. Tingginhya suhu juga di karenakan tidak adanya angin maupun sirkulasi air sebagai penggerak permindahan massa air dan aliran vertikal dari air itu sendiri, hal terjadi di suatu perairan yang sifatnya permanen seperti kolam. Hal ini sesuai dengan pendapat Gusrina (2008), yang menyatakan bahwa agar suhu air suatu perairan berfluktuasi rendah maka perlu adanya penyebaran suhu. Hal tersebut tercapai secara sifat alam antara lain sebagai berikut penyerapan (absorbsi) panas matahari pada bagian permukaan air, adanya angin sebagai penggerak permindahan massa air serta aliran vertikal dari air itu sendiri.
Dari hasil pengamatan terhadap suhu, apabila dihubungkan dengan parameter lainnya, misalnya kandungan oksigen terlarut (DO), dimana pada pukul 16.30 Wita suhu pada perairan tempat pengambilan sampel sekitar 32 0C sedangkan DOnya berkisar 8.66 mg/L dan pada pukul 17.30 Wita suhu perairan naik menjadi 33 0C dan Donya turun menjadi 7,53 mg/L. Hal ini sesuai dengan pernyataan Khordi dan Tancung (2007), yang menyatakan bahwa semakin tinggi suhu maka kelarutan oksigen dalam periran semakin berkurang.
Sedangkan suhu terendah terjadi pada pukul 09.30, 23.30, 02.30 – 04.30  dan 06.30 Wita yaitu sebesar 29 0C. Pada saat ini, rendahnya suhu dipengaruhi oleh besarnya sirkulasi udara yang terjadi sehingga terjadi penyebaran suhu secara vertikal dan diikuti pula dengan tidak adanya sinar matahari yang bersinar. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Barus (2002) bahwa pola temperatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti intensitas cahaya matahari, pertukaran panas antara air dengan udara sekelilingnya, ketinggian geografis dan juga oleh kanopi (penutupan oleh vegetasi) dari pepohonan yang tumbuh di tepi. Suhu air juga sangat berpengaruh terhadap proses kimia, fisika dan biologi di dalam perairan, sehingga dengan perubahan suhu pada suatu perairan akan mengakibatkan berubahnya semua proses di dalam perairan.
Suhu yang terdapat di kolam tempat pengambilan sampel masih termasuk normal untuk kegiatan budidaya. Hal ini sesuai pendapat Gusrina (2008), yang menyatakan bahwa kisaran suhu air yang sangat diperlukan agar pertumbuhan ikan-ikan pada perairan tropis dapat berlangsung berkisar antara 25° C – 32° C. Kisaran suhu tersebut biasanya berlaku di Indonesia sebagai salah satu negara tropis sehingga sangat menguntungkan untuk melakukan kegiatan budi daya ikan.
2.      Pengukuran Derajat Keasaman (pH) Perairan
Derajat keasaman atau pH merupakan suatu indeks kadar ion hidrogen (H+) yang mencirikan keseimbangan asam dan basa. Nilai pH pada suatu perairan mempunyai pengaruh yang besar terhadap organisme perairan sehingga seringkali dijadikan petunjuk untuk menyatakan baik buruknya suatu perairan (Odum, 1971).
Dari data hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa pH dalam kolam ini cukup normal bagi kegiatan budidaya, yaitu berkisar 7,88 – 7,02. Dimana pH tertinggi yaitu 7,88 pada pukul 19.30 Wita dan 7,84 yaitu pada pukul 14.30 dan 18.30 Wita. Sedangkan pH terendah pada pukul 06.30 Wita yaitu sekitar 7,02.
Adapun kisaran pH yang kami amati pada stasiun 1 dapat dilihat pada grafik di bawah ini :
Grafik 2. Hasil Pengukuran pH
Besarnya pH di kolam tempat pengambilan sampel dipengaruhi oleh banyaknya CO2 yang terlarut di perairan tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan diatas ketika menjelang pagi pH cenderung turun karena pada pagi hari kandungan CO2 sangat tinggi yang dihasilkan dari proses respirasi sehingga menyebabkan pH air turun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kordi K. dan Tancung (2007) mengatakan bahwa semakin banyak CO2 yang dihasilkan dari hasil respirasi, reaksi bergerak ke kanan dan secara bertahap melepaskan ion H+ yang menyebabkan pH air turun. Reaksi sebaliknya terjadi dengan aktivitas fotosintesis yang membutuhkan banyak ion CO2, menyebabkan pH air naik.
3.      Pengukuran Kesadahan Total
Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air akan dapat membentuk busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa (Arifin, 2008).
Kesadahan merupakan salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air. Kesadahan terutama disebabkan oleh keberadaan ion-ion kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) di dalam air. Keberadaannya di dalam air mengakibatkan sabun akan mengendap sebagai garam kalsium dan magnesium, sehingga tidak dapat membentuk emulsi secara efektif. Kation-kation polivalen lainnya juga dapat mengendapkan sabun, tetapi karena kation polivalen umumnya berada dalam bentuk kompleks yang lebih stabil dengan zat organik yang ada, maka peran kesadahannya dapat diabaikan. Oleh karena itu penetapan kesadahan hanya diarahkan pada penentuan kadar Ca2+ dan Mg2+. Kesadahan total didefinisikan sebagai jumlah miliekivalen (mek) ion Ca2+ dan Mg2+ tiap liter sampel air (Anonim, 2013).
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok 5 dan 10 pada stasiun 1 kesadahan total dari sampel yang kami amati yaitu 0,52 0dH. Hal ini disebabkan kandungan mineral dalam air sampel yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun ikatan molekul sangat sedikit. Dari data tersebut menunjukan bahwa tingkat kesadahan dari perairan tempat pengambilan sampel masuk dalam kategori lunak (soft). Hal ini sesuai dengan pendapat Andrews , et.  al., (1988) dalam Khordi dan Tancung (2007)  seperti yang dijabarkan pada tabel di bawah ini :
Tabel 3. Kadar CaCO3  dan derajat Kesadahan/Kekerasan
Istilah
Kadar CaCO3 (mg/L)
Kesadahan (0dH)
Soft (lunak)
Moderately soft (agak lunak)
Slightly hard (sedang)
Moderately hard (agak keras)
Hard (keras)
Very hard (amat keras)
0-50
50-100
100-200
200-300
300-450
>450
0-3
3-6
6-12
12-16
16-25
>25

Kaitannya dengan aplikasi budidaya, organisme perairan membutuhkan kesadahan tertentu. Namun, kebanyakan senang berada di air lunak. Umumnya hewan air lebih mudah beradaptasi dari air yang sifatnya lunak ke keras di banding keras ke lunak. Secara umum pertumbuhan dan perkembangan hewan air lebih menyukai air dengan tingkat kesadahan/kekerasan 3-10 0dH (Khordi dan Tancung, 2007).
4.      Pengukuran Oksigen Terlarut (DO)
Oksigen masuk dalam air melalui beberapa proses. Oksigen dapat terdifusi secara langsung dari atmosfir setelah terjadi kontak antara permukaan air dengan udara yang mengandung oksigen serta bersumber dari proses fotosintesis tumbuhan air merupakan sumber utama oksigen terlarut dalam air (Khordi dan Tancung, 2007).
Berdasarkan hasil pengamatan pada stasiun 1 terlihat jelas bahwa DO tertinggi berada pada pukul 14.30 Wita dengan nilai 8,86 mg/L dan pukul 13.30 Wita yaitu sekitar 8.63 mg/L sedangkan nilai DO terendah terjadi pada pukul 09.30 sampai 12.30 Wita hanya berkisar 2,44 sampai 2.85 mg/L. Namun setelah naik pada pukul 14.30 Wita kemudian turun kembali menjadi 4.44 mg/L pada pukul 18.30 Wita.
Adapun kisaran DO yang kami amati pada stasiun 1 dapat dilihat pada grafik di bawah ini :
Grafik 3. Hasil Pengukuran DO
Tinggihnya kadar oksigen terlarut pada pukul 13.30 dan 14.30 Wita dikarenakan sinar matahari pada saat ini bersinar secara maksimal, sehingga proses fotosintesis fitoplankton dalam perairan tetap berlangsung, sedangkan menurunnya kadar oksigen terlarut pada pukul 18.30 Wita ini dikarenakan matahari pada saat ini tidak lagi bersinar, sehingga menyebabkan proses fotosinteis tumbuhan air tidak terjadi dan aktivitas organisme dekomposer mulai berlangsung untuk mengurai bahan-bahan organik yang ada di perairan, aktivitas tersebut banyak memerlukan oksigen. Hal ini sesuai dengan pernyataan Barus (2002), bahwa sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari udara melalui kontak langsung dengan air dan dari proses fotosintesis selanjutnya DO berkurang melalui aktifitas respirasi yang dilakukan oleh organisme perairan. Serta di perkuat lagi oleh pendapat Khordi dan Tancung (2007), yang menyatakan bahwa pada malam hari kosentrasi kandungan oksigen terlarut (DO) dalam air cenderung berkurang karena tidak terjadinya aktivitas fotosintesis, serta oksigen banyak digunakan dalam proses respirasi atau dekomposisi bahan-bahan organik
Sedangkan pada pengamatan selanjutnya yaitu mulai pukul 23.30 Wita kandungan Donya yaitu 6,26 mg/L dan pada pukul 04.30 Wita menjelang pagi kandungan Donya berkisar 7,62 mg/L serta pengukuran terakhir pada pukul 09.30 pagi Wita kandungan Donya adalah 7,27 mg/L. Dari data tersebut terlihat bahwa kandungan oksigen terlarutnya cenderung berfluktuatif, hal ini dikerenakan kondisi perairan kolam tempat pratikum yaitu kolam normal permanent, yaitu tidak adanya sistem sirkulasi air, sehingga suplay oksigen yang terdifusi secara langsung dari atmosfir cenderung sedikit.
Dari hasil pengamatan secara keseluruhan menunjukan bahwa kondisi perairan yang menjadi lokasi pratikum masih normal untuk kegiatan budidaya. Pernyataan di atas didukung juga oleh Khordi dan Tancung (2007), yang menyatakan bahwa pada perairaan dengan kosentrasi oksigen di bawah 4 ppm, beberapa jenis ikan masih mampu bertahan hidup, akan tetapi nafsu makan mulai menurun. Hanya ikan-ikan yang memiliki alat pernapasan tambahan yang mampu hidup pada perairan yang kandungan oksigennya rendah. Untuk itu, kosentrasi oksigen yang baik dalam budidaya perairan adalah antara 5-7 ppm atau mg/L.
5.      Kekeruhan (Turbiditas)
Salah satu factor yang mempengaruhi kualitas air adalah Turbiditas (Kekeruhan). Turbiditas  merupakan kandungan bahan organik maupun anorganik yang terdapat di perairan sehingga mempengaruhi proses kehidupan organisme yang ada di perairan tersebut. Turbiditas sering di sebut dengan kekeruhan, apabila di dalam air media terjadi kekeruhan yang tinggi maka kandungan oksigen akan menurun, hal ini disebabkan intensitas cahaya matahari yang masuk kedalam perairan sangat terbatas sehingga tumbuhan/phytoplankton tidak dapat melakukan proses fotosintesis untuk mengasilkan oksigen (Wijanarko, P. 2005).
Hasil pengamatan terhadap kekeruhan selama 15 jam, di mulai pada pukul 09.30 Wita sampai dengan pukul 23.30 Wita di lapangan, menunjukkan bahwa tingkat kekeruhan (turbiditas) tertinggi pada stasiun I yaitu pada pukul 22.30 Wita yaitu sekitar 77,35 NTU dan pada pukul 17.30 Wita yaitu 73, 75 NTU. Sedangkan pada pengukuran yang lainnya tingkat kekeruhan hanya berkisar 55,5 NTU sampai 55,90 NTU.
Tingginya turbiditas di stasiun I, kemungkinan disebabkan benda-benda halus yang tersuspensi (seperti lumpur dsb), jasad-jasad renik yang merupakan plankton dan perubahan warna air (yang antara lain ditimbulkan oleh zat-zat koloid berasal dari daun-daun tumbuhan yang terektrak). Hal ini sesuai dengan pendapat Khordi dan Tancung (2007), yang menyatakan bahwa Kekeruhan disebabkan oleh partikel-partikel tanah. Partikel-partikel tanah mampu mengikat beberapa mineral, plankton maupun bahan organik kolam maupun tambak. Apabila jumlahnya terlalu banyak bisa mengganggu penglihatan organisme budidaya sehingga kesulitan dalam mencari makan. Semakin kecil tingkat kekeruhan suatu perairan, semakin dalam cahaya dapat masuk kedalam badan air, dan demikian semakin besar kesempatan bagi vegetasi akuatis untuk melakukan proses fotosintesis.
6.      Zat Padat Tersusprnsi (TSS)
Total padatan tersuspensi adalah bahan-bahan tersuspensi (diameter >1μm) yang tertahan pada saringan millipore dengan diameter pori 0,45 μm.TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang terbawa ke dalam badan air. Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan dapat menimbulkan kekeruhan air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas primer perairan menurun, yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makanan. Padatan tersuspensi yang tinggi akan mempengaruhi biota di perairan yaitu menghalangi dan mengurangi penentrasi cahaya ke dalam badan air, sehingga mengahambat proses fotosintesis oleh fitoplankton dan tumbuhan air lainnya. Kondisi ini akan mengurangi pasokan oksigen terlarut dalam badan air (Nybakken, 1992).
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok 5 dan 10 pada stasiun 1 total padatan tersuspensi yaitu sekitar 0.00020 ppm. Hal ini disebabkan partikel lumpur maupun tanah dan jasad-jasad renik yang berupa plankton. Dari pernyataan Effendi (2003), kolam budidaya memiliki kadar TSS yang sangat baik apabila berada di bawah kisaran kurang 25 ppm. Hal ini sangat cocok untuk kegiatan budidaya hewan akuatik karena tidak memiliki pengaruh yang menghambat pertumbuhan atau menyebabkan kematian pada hewan akuatik.
7.      Zat Padat Terlarut (TDS)
Total padatan terlarut (TDS) merupakan bahan-bahan terlarut dalam air yang tidak tersaring dengan kertas saring millipore dengan ukuran pori 0,45 μm. Padatan ini terdiri dari senyawa-senyawa anorganik dan organik yang terlarut dalam air, mineral dan garam-garamnya. Penyebab utama terjadinya TDS adalah bahan anorganik berupa ion-ion yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh air buangan sering mengandung molekul sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan rumah tangga dan industri pencucian (Misnani, 2010).
Berdasakan hasil pengamatan kelompok kami pada stasiun 1 total padatan terlarut dari air sampel yaitu sekitar 0.00008 ppm. Kosentrasi TDS dari perairan tempat pengambilan sampel termasuk normal dan belum memberikan dampak negatif terhadap organisme budidaya serta masih berada pada kisaran baku mutu yang diijinkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Penyebab utama dari TDS yaitu karena tempat pengambilan air sampel dekat dengan dengan sekret Mapiara sehingga tidak menutup kemungkinan dalam perairan tersebut mengandung molekul sabun deterjen dan surfaktan yang larut dalam air, misalnya air buangan rumah tangga. Hal ini sesuai dengan pernyataan Misnani (2010), yang menyatakan penyebab utama terjadinya TDS adalah bahan anorganik berupa ion-ion yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh air buangan sering mengandung molekul sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan rumah tangga dan industri pencucian















V.  KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan di atas saya sebagai penulis ada beberapa hal yang dapat saya simpulkan adalah sebagai berikut :
1.      Berdasarkan hasil pengamatan, suhu sangat fluktuatif. Salah satu faktor yang mempengaruhi suhu adalah penyerapan (absorbsi) panas matahari pada bagian permukaan air.
2.      Besarnya pH di kolam tempat pengambilan sampel dipengaruhi oleh banyaknya CO2 yang terlarut di perairan.
3.      Kesadahan total dari sampel yang kami amati yaitu 0,52 0dH. Hal ini disebabkan kandungan mineral dalam air sampel yang berasal dari batuan dalam tanah, baik dalam bentuk ion maupun ikatan molekul sangat sedikit.
4.      Kandungan oksigen terlarut dalam perairan dipengaruhi oleh sinar matahari untuk proses fotosintesis.
5.      Dari hasil pengamatan turbiditas perairan termasuk tinggi, kemungkinan disebabkan benda-benda halus yang tersuspensi (seperti lumpur dsb), jasad-jasad renik yang merupakan plankton dan dari daun-daun tumbuhan yang terurai.
6.      Total padatan tersuspensi yaitu sekitar 0.00020 ppm. Hal ini disebabkan partikel lumpur maupun tanah dan jasad-jasad renik yang berupa plankton.
7.      Total padatan terlarut dari air sampel yaitu sekitar 0.00008 ppm. Kosentrasi TDS dari perairan tempat pengambilan sampel termasuk normal dan belum memberikan dampak negatif terhadap organisme budidaya.
8.      Suhu dan kelarutan oksigen berbanding terbalik, yaitu semakin tinggi suhu maka kelarutan oksigen dalam periran semakin berkurang.


B. Saran
Adapun saran yang dapat saya ajukan untuk kebaikan pratikum kedepannya sebaiknya  alat yang di gunakan lebih lengkap dan dirawat dengan baik agar pratikum tidak kekurangan data dan dapat melakukan pengukuran parameter kualitas air  sampai selesai.












DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2013. Didownload dari http://younggeomorphologys. wordpress. com/2011/03/19/konsepsi-kebutuhan-air-batasan-dan-cara-perhitungannya/ Diakses 18 Maret 2013.
Asdak, 2007. Hidrologi Dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah.
Barus, T. A, 2002. Pengantar Limnologi. Jurusan Biologi FMIPA USU. Medan
Basmi. 2000. Planktonologi : Plankton sebagai Bioindikator Kualitas Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Boyd, C.E., Wood, C.W., Thunjai T. 2002. Aquaculture Pond Bottom Soil Quality Management. Pond Dynamic/ Aquaculture Collaborative Research Support Programe, Oregon State university, Corvallis, Oregon.
______., 1995. Pengaturan Aerasi Tambak Udang. Dalam Majalah Primadona, Edisi Nopember, Jakarta : 7-12.
Edward, A. Sediadi, 2003.  Jurnal Perikanan Universitas Sam Ratulangi.
Gusrina, 2008. Budidaya Ikan Jilid I. PT Macanan jaya cemerlang. Jakarta.
Hargreaves, John A. 1999. Control of Clay Turbidity in Ponds. Southern Regional Aquaculture Center (SRAC), Publication No.460. May.
Hefni Effendi,2007, Telaa kualitas air ; Kanisius 2003, yokyakara.
Kordi, M.G.H.K.,dan A.B. Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta. Jakarta.
_____ M.G.H.K., 1996. Parameter Kualitas Air. Penerbit Karya Anda, Surabaya.
Misnani. 2010. Praktikum Teknik Lingkungan Total Padatan Terlarut. Online http://misnanidulhadi.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 18 Maret 2013
Nybakken, J.W., 1992. (Terjemahan: H.M. Eidman et al) Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: pp. 6 – 29; 290 -
324.
Odum, E. P. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Sounders Company. Philadelphia, London.
Subarijanti, H. U. 2005. Pemupukan dan kesuburan perairan . Fakultas perikanan. Univerista Brawijaya. Malang.
Wijanarko, P. 2005. Catatan Kuliah Manajemen Kualitas Air. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang.